A: "...apakah mungkin karena kita hidup di zaman yg berbeda? Sungguh perbedaan waktu yang panjang"
B: "Iya, seakan aku telah hidup 1000 tahun, saat pertama kau pijakkan kakimu di sma"
A: "haha.. Tapi maaf, sudah sewajarnya lah kau memiliki teman sejati"
B: "Maaf tak perlu kuberi ketika salah tak kau lakukan. Karena aku hanya memberi sesuatu yang semestinya. ya, kau benar! seperti teman sejati yang semestinya ada disampingku saat ini."
A: "Apalah artinya teman sejati yang semestinya ada disampingmu kalau itu masih saja tertinggal dengan kata "semestinya"?"
B: "Memang semestinya bukanlah semesta yang seperti segalanya, semestinya adalah perwujudan kehendak yang tak terlaksana. kehendak yang mengharap teman sejati hadir laksana cahaya menyinari semesta."
A: "Dengan kuasa-Nya, cahaya hadir menyinari semesta setiap harinya, dan dengan kuasa-Nya juga lah teman sejati hadir. Seperti semestinya kehendak yang tak terlaksana pasti ada alasannya, teman sejati yang sesuai kehendak kadang sulit dicapai, karena ternyata Dia punya kehendak yang bagi-Nya mudah untuk kau capai."
B: "Iya kau benar.. sudah sepantasnyalah kehendak itu hanya kupanjatkan pada Dia Yang Maha Kuasa. Karena semesta ini pun tunduk pada kuasa-Nya dan hal yang amat mudah bagi-Nya untuk mencarikan dan memilihkan bahkan menaklukan hati sang teman sejati itu."
A: "Dan tiada satu pun yang tahu bila Dia ternyata memilihkan untukmu teman sejati yang belum kau ketahui, dan tak akan kau ketahui jika kau tetap pada kehendakmu.."
B: "Sekali lagi kau benar kawan!! Sudahkah kau bertanya pada-Nya perihal teman sejati itu? aku belum.."
A: "Belum.. aku masih terlalu muda untuk itu. haha.. yah, kau tahu aku sedang berbohong."
B: "aah.. itu dia, aku masih bertahan pada hati ini, seperti bertahannya gunung memaku bumi, seperti bertahannya karang dari deburan ombak."
A: "Bertahan pada hati yang seperti apa maksudmu?"
B: "Pada hati yang telah membuatku merindu sekian lama.."
A: "Baiklah.. Jadi, menurutmu teman sejati itu baiknya ditemukan atau menunggu ada yang menemukannya untuk kita? Apa kau tahu?"
B: "Kata ibuku, itu tergantung perjalanan takdirmu, entah itu kau yg menemukan ataukah teman sejatimu yang menemukanmu. tapi aku lebih suka menyebutnya dengan perjalanan hati untuk saling menemukan satu sama lain."
A: "Sudah pernah kah kau bertanya bagaimana dulu Ibu mu menemukan teman sejatinya? Bagaimana kalau kau ternyata pernah menemukannya?"
B: "Ibu dan ayahku saling menemukan atau mungkin lebih tepatnya dipertemukan takdir bahwa mereka masih bersaudara. aku tak tahu kawan.. bisa jadi aku pernah menemuinya, atau mungkin itu cuma harapan kosong hatiku saja..."
-the end-
(in collaboration with @etiologyofliving)
  1. etiologyofliving reblogged this from feelosopher
  2. feelosopher posted this